5 Contoh Rumus Potongan Keterlambatan Kehadiran Karyawan

Keterlambatan kehadiran karyawan adalah salah satu tantangan umum yang dihadapi perusahaan, baik di sektor kantor, retail, maupun F&B. Jika tidak diatur dengan jelas, keterlambatan bisa berdampak pada disiplin kerja, produktivitas tim, hingga keadilan pengupahan.

Agar penegakan disiplin tetap objektif dan transparan, perusahaan perlu memiliki rumus potongan keterlambatan yang jelas, konsisten, dan terdokumentasi dalam kebijakan perusahaan.

Berikut beberapa contoh rumus potongan keterlambatan kehadiran karyawan yang umum digunakan

1.Rumus Potongan Per Menit Keterlambatan

Rumus:

Potongan = (Gaji Harian / Jam Kerja Harian / 60) × Jumlah Menit Terlambat

Contoh:

  • Gaji bulanan: Rp5.000.000
  • Hari kerja: 22 hari
  • Jam kerja: 8 jam per hari
  • Terlambat: 15 menit

Perhitungan:

  • Gaji harian = 5.000.000 / 22 = Rp227.273
  • Gaji per menit = 227.273 / 8 / 60 ≈ Rp474
  • Potongan = 15 × 474 = Rp7.110

Cocok untuk:

✓ Perusahaan yang ingin perhitungan adil dan proporsional
✓ Kantor dengan sistem absensi digital

 

2.Rumus Potongan Bertingkat (Range Keterlambatan)

Contoh skema:

Keterlambatan Potongan
1–10 menit Tidak dipotong
11–30 menit 1 jam gaji
31–60 menit 2 jam gaji
> 60 menit ½ gaji harian

Cocok untuk:

✓ Perusahaan yang ingin fleksibilitas
✓ Menghindari potongan kecil yang rumit dihitung

 

3.Rumus Potongan Flat per Kejadian Terlambat

Contoh:

  • Terlambat berapa pun: potongan Rp25.000 / kejadian

Kelebihan:

✓ Mudah dipahami karyawan
✓ Mudah diterapkan oleh HR & payroll

Kekurangan:

✗ Kurang adil untuk keterlambatan singkat
✗ Bisa terasa terlalu ringan atau terlalu berat

 

4.Rumus Potongan Akumulasi Bulanan

Pada metode ini, keterlambatan tidak langsung dipotong, tetapi diakumulasi selama satu bulan.

Contoh:

  • Total keterlambatan ≤ 30 menit/bulan → Tidak dipotong
  • 31–60 menit → Potong 1 jam gaji
  • > 60 menit → Potong ½ gaji harian

Cocok untuk:

✓ Budaya kerja berbasis kepercayaan
✓ Perusahaan yang fokus pada kinerja, bukan sekadar jam hadir

 

5.Rumus Konversi Keterlambatan ke Tidak Masuk Kerja

Digunakan di sektor retail, manufaktur, dan F&B.

Contoh:

  • Terlambat > 2 jam → dianggap ½ hari tidak masuk
  • Terlambat > 4 jam → dianggap 1 hari tidak masuk

Dampak:

✓ Tegas dan jelas
✓ Mendorong kedisiplinan tinggi

Hal Penting yang Wajib Diperhatikan HR

Sebelum menerapkan potongan keterlambatan, pastikan:

  1. Aturan tertulis di Peraturan Perusahaan (PP) atau PKB
  2. Tidak melanggar ketentuan ketenagakerjaan
  3. Disosialisasikan secara terbuka ke karyawan
  4. Diterapkan konsisten ke semua level jabatan

Potongan gaji tanpa dasar aturan yang jelas berisiko menimbulkan konflik dan masalah hukum.

Tips Mengelola Potongan Keterlambatan Lebih Praktis

Menghitung keterlambatan manual sering memicu:

  • Salah hitung
  • Komplain karyawan
  • Payroll molor

Solusinya, gunakan HRIS yang dapat:
✓ Mencatat jam masuk otomatis
✓ Menghitung potongan sesuai rumus
✓ Terintegrasi langsung ke payroll

Dengan sistem HRIS seperti PayrollBozz, HR bisa mengelola absensi dan potongan keterlambatan lebih cepat, akurat, dan transparan.

Penutup

Tidak ada satu rumus yang paling benar. Pilih metode potongan keterlambatan yang sesuai budaya perusahaan, adil bagi karyawan, dan mudah dikelola oleh HR.

 

Baca juga: cara menerapkan reward dan punishment di perusahaan | apakah absensi dengan mesin fingerprint sudah cukup | sanksi bagi perusahaan yang telat membayar gaji

Ingin mengelolanya lebih praktis? Coba aplikasi absensi online yang menghitung keterlambatan otomatis dari PayrollBozz.

Pertanyaan Umum

Apakah perusahaan boleh memotong gaji karyawan yang terlambat?

Boleh, asalkan aturan potongan atau denda keterlambatan tertulis di perjanjian kerja, peraturan perusahaan, atau PKB. PP 36/2021 tentang Pengupahan mensyaratkan denda atas pelanggaran karena kesengajaan atau kelalaian didasarkan pada aturan tersebut. Potongan tanpa dasar tertulis rawan menjadi perselisihan hubungan industrial.

Berapa batas maksimal potongan gaji karyawan?

PP 36/2021 membatasi jumlah keseluruhan pemotongan upah paling banyak 50% dari setiap pembayaran upah yang diterima pekerja. Batas ini berlaku untuk gabungan semua potongan, termasuk denda keterlambatan, cicilan pinjaman, dan ganti rugi. Karena itu, skema potongan telat sebaiknya proporsional, misalnya berbasis upah per menit.

Bagaimana cara menghitung potongan gaji per menit keterlambatan?

Hitung dulu upah per menit: gaji bulanan ÷ (jumlah hari kerja × jam kerja per hari × 60). Contoh: gaji Rp5.200.000, 26 hari kerja, 7 jam per hari = 10.920 menit, sehingga upah per menit ≈ Rp476. Jika terlambat 30 menit, potongannya ≈ Rp14.286.

Apa saja isi SOP keterlambatan karyawan yang baik?

SOP yang baik memuat definisi terlambat dan batas toleransi (misalnya 5–15 menit), cara pencatatan kehadiran, rumus potongan yang dipakai, serta tahapan sanksi dari teguran lisan sampai surat peringatan. Cantumkan juga pengecualian seperti dinas luar atau keadaan darurat, lalu sosialisasikan ke seluruh karyawan.

Apakah terlambat berulang bisa berujung surat peringatan?

Bisa, jika keterlambatan diatur sebagai pelanggaran disiplin di peraturan perusahaan atau PKB. Umumnya diawali teguran lisan, lalu SP1, SP2, dan SP3. Menurut PP 35/2021, pemutusan hubungan kerja karena pelanggaran dapat dilakukan setelah pekerja diberi surat peringatan pertama, kedua, dan ketiga secara berturut-turut.