Job description (JD) adalah fondasi penting dalam proses rekrutmen dan manajemen kinerja. Meski terdengar sederhana, banyak perusahaan yang masih membuat job description secara asal—terlalu umum, tidak terukur, atau bahkan tidak sesuai dengan kebutuhan posisi.
Agar rekrutmen lebih tepat sasaran, karyawan memahami ekspektasi, dan evaluasi kinerja lebih objektif, perusahaan perlu menyusun job description secara efektif dan terstruktur.
Apa Itu Job Description dan Mengapa Penting?
Job description adalah dokumen yang menjelaskan tanggung jawab, ruang lingkup kerja, tujuan posisi, serta kualifikasi yang dibutuhkan untuk suatu jabatan.
Manfaatnya antara lain:
- Membantu HR menarik kandidat terbaik.
- Menjadi acuan evaluasi kinerja.
- Memastikan setiap posisi memiliki tujuan yang jelas.
- Menghindari overlap tugas antar-departemen.
- Mempermudah komunikasi antara HR, atasan langsung, dan karyawan.
Komponen Utama dalam Job Description yang Efektif
Sebuah job description yang baik biasanya memuat bagian berikut:
- Job Title (Nama Jabatan)
Harus jelas, umum digunakan di industri, dan mencerminkan level senioritas. - Tujuan Jabatan (Job Purpose / Summary)
Ringkasan singkat mengenai peran utama posisi tersebut dalam perusahaan. - Tugas dan Tanggung Jawab (Responsibilities)
Buat daftar poin yang spesifik, terukur, dan fokus pada hasil utama. - Kualifikasi (Qualifications)
- Pendidikan
- Pengalaman
- Hard skills & soft skills
- Sertifikasi (jika ada)
- Hubungan Kerja (Reporting Line & Internal/External Relation)
Siapa yang menjadi atasan langsung dan dengan tim mana posisi ini berkolaborasi. - KPI atau Indikator Keberhasilan (Key Performance Indicators)
Agar ekspektasi hasil lebih jelas sejak awal. - Lokasi & Jenis Kerja
On-site, hybrid, remote, atau lapangan.
Tips Menulis Job Description yang Efektif
- Gunakan Bahasa yang Jelas dan Mudah Dipahami: Hindari jargon berlebihan dan istilah ambigu yang bisa menyesatkan kandidat.
- Fokus pada Tugas Utama, Bukan Semua Tugas: Tuliskan 5–10 tanggung jawab inti yang mencerminkan core job.
- Gunakan Action Verb: Awali setiap tugas dengan kata kerja seperti:Mengelola, mengembangkan, menganalisis, memonitor, memimpin, menyusun, memproses, dll.
- Tambahkan KPI: Ini membantu kandidat memahami ekspektasi dan mempermudah evaluasi kinerja.
- Kolaborasi dengan Atasan Langsung: Karena merekalah yang paling tahu kebutuhan posisi secara nyata.
- Update Secara Berkala: Job description harus berubah mengikuti kebutuhan bisnis dan teknologi.
Contoh Template Job Description
Berikut template yang bisa langsung dipakai perusahaan:
[Nama Jabatan]
Departemen:
Lokasi:
Jenis Kerja: On-site/Hybrid/Remote
- Ringkasan Pekerjaan: Tuliskan 2–3 kalimat tentang tujuan utama jabatan.
- Tugas dan Tanggung Jawab Utama
- Mengelola …
- Menyusun …
- Menganalisis …
- Melakukan koordinasi dengan …
- Membuat laporan mengenai …
- Kualifikasi
Pendidikan:
Pengalaman:
Keahlian:
- Hard skill: …
- Soft skill: …
Sertifikasi: (Jika diperlukan)
- Hubungan Kerja
- Melapor kepada: …
- Bekerja sama dengan: …
- Indikator Kinerja (KPI)
- Target penjualan bulanan …
- Waktu penyelesaian proyek …
- Tingkat akurasi laporan …
- Benefit / Catatan Tambahan (Opsional)
Contoh Ringkas Job Description (Marketing Officer)
Ringkasan Pekerjaan:
Bertanggung jawab mengembangkan strategi pemasaran, membuat materi promosi, serta meningkatkan brand awareness untuk mendukung target penjualan perusahaan.
Tugas Utama:
- Membuat kampanye marketing digital.
- Mengelola media sosial dan analitik.
- Melakukan riset pasar dan kompetitor.
- Menyusun kalender konten.
- Berkoordinasi dengan tim sales.
Kualifikasi:
- Min. S1 Marketing/Komunikasi.
- Pengalaman 1–3 tahun.
- Menguasai tools digital marketing.
- Kreatif, komunikatif, dan analitis.
KPI:
- Pertumbuhan engagement media sosial.
- Peningkatan lead bulanan.
- Efektivitas kampanye pemasaran.
Kesalahan Umum dalam Menyusun Job Description
- Terlalu Umum dan Tidak Spesifik: Misalnya hanya menulis “bertanggung jawab atas operasional harian”—tanpa menjelaskan apa saja operasional tersebut.
- Menulis Tugas yang Tidak Relevan: Sering terjadi karena copy-paste dari posisi lain.
- Tidak Mencantumkan KPI: Akhirnya penilaian kinerja menjadi subjektif.
- Menuliskan Terlalu Banyak Tugas: Hindari daftar 20–30 poin karena akan membuat kandidat bingung dan posisi terlihat melelahkan.
- Tidak Melibatkan Atasan Langsung: HR membuat JD sendiri tanpa konfirmasi, sehingga hasilnya tidak sesuai kebutuhan.
- Tidak Pernah Di-update: Padahal, teknologi, proses kerja, dan prioritas perusahaan berubah dari waktu ke waktu.
Penutup
Job description yang efektif akan membantu perusahaan menekan mismatch kandidat, mempercepat proses rekrutmen, dan meningkatkan kinerja karyawan. Dengan mengikuti tips, template, dan menghindari kesalahan umum di atas, perusahaan dapat menyusun JD yang lebih terarah dan profesional.
Jika Anda ingin membuat proses penyusunan job description, rekrutmen, hingga manajemen kinerja lebih mudah, gunakan aplikasi HRIS seperti PayrollBozz yang dapat mengelola data jabatan, KPI, dan struktur organisasi secara otomatis.





