Dalam dunia kerja, gaya kepemimpinan setiap atasan tentu berbeda-beda. Ada yang terbuka, komunikatif, dan aktif memberikan arahan, namun ada juga yang cenderung pasif dan kurang berkomunikasi. Tipe atasan seperti ini bisa membuat karyawan bingung, karena tidak tahu pasti apa yang diharapkan atau bagaimana menilai kinerja mereka.
Lalu, bagaimana cara menghadapi atasan yang pasif dan tidak komunikatif tanpa membuat hubungan kerja menjadi canggung?
- Pahami Gaya Komunikasinya
Setiap atasan memiliki gaya komunikasi yang unik. Ada yang lebih nyaman berbicara langsung, ada pula yang lebih suka lewat pesan tertulis. Cobalah perhatikan pola yang ia tunjukkan — apakah lebih sering merespons email, chat, atau hanya bicara ketika dibutuhkan?
Dengan memahami gaya komunikasinya, kamu bisa menyesuaikan cara berinteraksi agar komunikasi berjalan lebih lancar.
- Ambil Inisiatif untuk Berkomunikasi
Jika atasan jarang memberi arahan, ambil langkah proaktif. Buat laporan singkat tentang progres kerja, tanyakan feedback, atau konfirmasi arah pekerjaan. Jangan menunggu atasan memulai percakapan — justru kamu yang perlu membuka komunikasi terlebih dahulu.
Contohnya:
“Pak, saya ingin memastikan apakah rencana kerja minggu ini sudah sesuai arah yang Bapak harapkan?”
Langkah kecil seperti ini bisa membantu membangun komunikasi dua arah yang lebih baik.
- Gunakan Data dan Bukti Nyata
Atasan yang pasif biasanya tidak suka berbicara panjang lebar, tetapi menghargai hasil kerja yang konkret. Saat berdiskusi, gunakan data, hasil kerja, atau laporan kinerja yang jelas. Ini membuat komunikasi lebih efisien dan menghindari salah paham.
- Tetap Profesional dan Sabar
Jangan langsung menilai atasan sebagai “tidak peduli” hanya karena ia jarang berinteraksi. Bisa jadi ia memiliki beban kerja tinggi atau tipe pribadi yang lebih introvert. Tetaplah menjaga profesionalitas dan jangan mudah frustrasi — yang penting, pekerjaanmu tetap berjalan sesuai target.
- Gunakan Alat Kolaborasi dan HRIS
Dalam situasi seperti ini, sistem HRIS (Human Resource Information System) bisa membantu menjaga komunikasi dan transparansi pekerjaan.
Dengan HRIS seperti PayrollBozz, karyawan bisa:
- Mencatat dan melaporkan aktivitas kerja secara online,
- Mengajukan izin, cuti, dan reimbursement tanpa harus menunggu respon langsung,
- Melihat target dan evaluasi kinerja dengan jelas.
Semua komunikasi administratif tersimpan rapi dan terdokumentasi, sehingga mengurangi miskomunikasi antara atasan dan tim.
Kesimpulan
Menghadapi atasan yang pasif memang membutuhkan kesabaran dan strategi komunikasi yang tepat. Kuncinya adalah proaktif, profesional, dan adaptif terhadap gaya kepemimpinan yang berbeda. Dengan pendekatan yang baik dan dukungan sistem kerja digital seperti PayrollBozz, hubungan kerja tetap bisa produktif dan efektif — meski komunikasi tidak selalu intens.





