Kejujuran adalah salah satu kualitas paling penting yang dicari perusahaan dalam diri seorang calon karyawan. Seorang karyawan yang jujur akan lebih mudah dipercaya, bekerja dengan integritas, dan mendukung terciptanya lingkungan kerja yang sehat. Namun, menilai kejujuran seseorang dalam wawancara kerja tidaklah semudah mengajukan pertanyaan langsung, karena hampir semua kandidat ingin menampilkan sisi terbaiknya.
Berikut adalah beberapa cara yang bisa digunakan HR atau pewawancara untuk menilai kejujuran calon karyawan sejak tahap wawancara:
- Ajukan Pertanyaan Perilaku (Behavioral Questions)
Pertanyaan berbasis pengalaman nyata seringkali mampu mengungkap bagaimana kandidat mengambil keputusan di masa lalu. Misalnya:
- “Ceritakan situasi saat Anda melakukan kesalahan di pekerjaan sebelumnya. Apa yang Anda lakukan?”
Jawaban yang terlalu sempurna atau berbelit bisa menjadi tanda kandidat menutupi sesuatu. Kandidat yang jujur cenderung mengakui kesalahannya sambil menjelaskan bagaimana ia memperbaiki atau belajar dari situasi tersebut.
- Perhatikan Konsistensi Jawaban
Kejujuran tercermin dari konsistensi. Jika pewawancara mengajukan pertanyaan yang sama dengan cara berbeda di sesi wawancara, jawaban kandidat yang berubah-ubah bisa menjadi sinyal adanya ketidakjujuran.
- Gunakan Pertanyaan Situasional yang Sulit
Berikan skenario yang melibatkan dilema etika, seperti:
- “Bagaimana jika Anda menemukan rekan kerja melakukan pelanggaran kecil yang merugikan perusahaan?”
Cara kandidat menjawab akan memperlihatkan prinsip kejujuran yang ia pegang, apakah cenderung menutup mata atau berani mengambil langkah tepat.
- Amati Bahasa Tubuh
Bahasa tubuh seringkali mengungkapkan hal-hal yang tidak disampaikan dengan kata-kata. Kandidat yang terlihat gelisah, menghindari kontak mata, atau memberikan jeda panjang sebelum menjawab, bisa jadi sedang menyembunyikan sesuatu. Meski demikian, pewawancara perlu hati-hati membedakan antara tanda ketidakjujuran dengan sekadar gugup.
- Tanyakan Referensi & Verifikasi Data
Selain wawancara, lakukan cross-check terhadap data kandidat. Meminta referensi dari atasan sebelumnya atau melakukan background check bisa membantu memvalidasi klaim yang disampaikan.
- Gunakan Tes Kejujuran atau Assessment Tambahan
Beberapa perusahaan menggunakan assessment psikologi atau tes integritas yang didesain khusus untuk mengukur kecenderungan perilaku jujur, seperti tes kepribadian, inventory integritas, hingga simulasi studi kasus.
Kesimpulan
Menilai kejujuran calon karyawan dalam wawancara memang menantang, namun sangat penting untuk keberlangsungan budaya kerja yang sehat. Dengan pertanyaan tepat, pengamatan detail, serta verifikasi informasi, HR bisa mendapatkan gambaran awal tentang integritas seorang kandidat.
Mengingat kejujuran adalah pondasi kepercayaan dalam hubungan kerja, perusahaan sebaiknya menjadikannya salah satu aspek utama dalam proses rekrutmen.