fbpx
Kenali Penyebab dan Cara Mengatasi Financial Distress

Kenali Penyebab dan Cara Mengatasi Financial Distress

Istilah financial distress mungkin terdengar asing bagi sebagian orang. Selain karena jarang digunakan, istilah ini juga memiliki arti yang kurang menyenangkan.

Secara harfiah, financial distress merujuk pada sebuah kondisi keuangan suatu perusahaan yang mengalami penurunan. Kondisi ini biasanya mendekati perusahaan yang akan bangkrut atau akan mengalami likuidasi.

Perusahaan yang mengalami financial distress umumnya memiliki kondisi keuangan yang sudah tak lagi sehat. Ini dapat terlihat dari laporan laba bersihnya yang menunjukkan hasil yang negatif. Selain itu, laba operasi serta nilai buku ekuitasnya pun juga dapat dijadikan patokan dalam hal ini.

Dalam praktiknya, financial distress sering dialami oleh perusahaan kecil yang baru beroperasi 1 hingga 3 tahun. Namun tak jarang hal ini juga menimpa perusahaan besar sudah berjalan puluhan tahun lamanya.

Sebenarnya terdapat berbagai macam opsi yang bisa dijadikan pilihan untuk mengatasi permasalahan ini. Nah, pada artikel kali ini PayrollBozz akan memberikan pembahasan lengkapnya untuk Anda. 

Mengenal Penyebab Financial Distress

Penyebab Financial Distress

Menurut Brigham dan Daves (2003), fenomena terjadinya financial distress biasanya disebabkan oleh beberapa macam alasan. Di antaranya yang paling sering terjadi adalah ketika perusahaan mengambil keputusan besar yang salah atau kurang tepat. Selain itu faktor penggunaan dana internal yang tidak sesuai kebutuhan juga sering menjadi pemicu kesulitan finansial yang dialami oleh perusahaan.

Lebih lanjut, kondisi financial distress juga dapat dipengaruhi oleh kondisi finansial perusahaan yang kurang optimal. Seperti yang dijelaskan oleh Rodoni dan Ali (2012) dalam Juyneo (2016) yang menyatakan 3 hal tersebut ialah kurang atau tidak cukupnya modal, besarnya beban utang yang diemban oleh perusahaan serta perusahaan yang mengalami penurunan penjualan hingga mengalami kerugian.

Menurutnya, ketiga hal tersebut saling berkaitan satu sama lain. Sehingga untuk mengantisipasi terjadinya kebangkrutan, maka pihak perusahaan harus bisa mengontrol ketiganya dengan baik dan secara berimbang. Dengan demikian risiko terburuk dari operasional dapat lebih ditekan.

Sebagai tambahan menurut Damodaran (1997), penyebab dari financial distress selain beban utang yang besar dan kerugian dalam kegiatan operasional, juga dapat disebabkan oleh kesulitan arus kas yang terjadi di perusahaan. Hal ini biasa terjadi ketika perusahaan tidak mampu lagi memenuhi kewajiban dari operasionalnya lewat omset yang didapatkan.

Jenis-jenis Financial Distress

Jenis-jenis Financial Distress

Setelah memahami definisi serta penyebab dari financial distress di atas. Berikutnya kami juga akan memberikan informasi terkait jenis-jenis financial distress yang paling sering terjadi menurut Brigham & Gapenski (1993) dalam Saptono (2001). Setidaknya terdapat 4 jenis financial distress yang perlu Anda ketahui, berikut di antaranya:

1. Economic failure (kegagalan ekonomi)

Jenis financial distress yang pertama adalah economic failure atau kegagalan ekonomi. Kondisi ini merujuk pada situasi di mana perusahaan tidak lagi mampu untuk menutup biaya operasional termasuk modal yang dikeluarkan untuk proses produksi.

Hal tersebut mengindikasikan bahwa omset yang didapatkan oleh perusahaan lebih kecil dari seluruh biaya operasional perusahaan. Akibatnya jika perusahaan terus mengalami permasalahan ini, maka yang terjadi adalah perusahaan dapat mengalami kebangkrutan.

Namun keadaan ini bisa membaik jika terdapat investor yang mau memberikan tambahan modal serta mau untuk menerima pengembalian di bawah tingkat pasar.

2. Business failure (kegagalan bisnis)

Berikutnya ada business failure atau kegagalan dalam bisnis yang merupakan sebuah kondisi di mana perusahaan tidak lagi memiliki harapan ke depannya. 

Istilah ini pertama kali digunakan oleh Dun & Bradstreet yang mengatakan bahwa kegagalan ini bisa disebabkan oleh perusahaan yang kehilangan kreditur hingga harus secara terpaksa menghentikan operasionalnya.

3. Financial failure (kegagalan finansial)

Lalu ada financial failure atau kegagalan finansial yang merupakan sebuah kondisi di mana perusahaan tak lagi mampu memenuhi kewajiban jangka pendeknya. Salah satu contohnya adalah ketika perusahaan tidak dapat membayar hutangnya tepat waktu. Ini biasa disebabkan oleh kerugian beruntun atau berkepanjangan yang dialami oleh perusahaan tersebut.

4. Legal bankruptcy (bangkrut secara hukum)

Jenis financial distress yang terakhir adalah kebangkrutan secara hukum. Sesuai namanya, hal ini terjadi ketika suatu perusahaan dinyatakan benar-benar tidak lagi dapat beroperasi atau bangkrut dan sudah disahkan secara hukum.

Di Indonesia sendiri terdapat undang-undang yang mengatur tentang syarat serta putusan bangkrut sebuah perusahaan yang diatur dalam Pasal 2 UU No. 4 Tahun 1998.

Cara Mengatasi Financial Distress

Cara Mengatasi Financial Distress

Seperti yang telah disinggung di awal, financial distress bisa diatasi dengan berbagai macam cara. Tentunya solusi yang digunakan ini disesuaikan dengan kondisi perusahaan saat itu. Berikut adalah beberapa langkah atau cara mengatasi financial distress yang bisa dilakukan perusahaan:

1.  Melakukan Restrukturisasi Hutang

Cara yang pertama adalah melakukan restrukturisasi hutang. Restrukturisasi hutang adalah kondisi di mana perusahaan membayar hutangnya dengan syarat atau cara yang lebih ringan.Tentunya hal ini harus dilakukan berdasarkan izin dari pihak kreditur selaku pemberi pinjaman.

Tujuan dari melakukan restrukturisasi hutang ini adalah agar pihak debitur dapat menyesuaikan kondisi keuangannya terlebih dahulu tanpa harus mengesampingkan kewajiban jangka pendek yang dimilikinya.

2. Menjual aset yang dimiliki perusahaan

Solusi yang berikutnya, perusahaan dapat menjual aset yang mereka miliki agar dapat menutup biaya operasional atau kewajiban jangka pendeknya. Aset ini bisa berupa mesin, kendaraan, dan lain sebagainya.

Namun untuk menggunakan solusi yang satu ini, perusahaan juga harus melakukan pertimbangan secara matang dengan memikirkan risiko jangka panjangnya.

3. Melakukan merger dengan perusahaan lain

Solusi yang berikutnya, perusahaan juga dapat melakukan merger dengan perusahaan lain yang memiliki kondisi finansial jauh lebih stabil.

Merger sendiri merupakan sebuah istilah yang digunakan untuk menyebut dua atau lebih perusahaan yang bergabung menjadi satu. Di mana seluruh saham baik yang berupa aset maupun non aset akan digabungkan sehingga masing-masing pemilik perusahaan akan memiliki persentase saham pada perusahaan hasil merger tersebut.

Operasional perusahaan yang melakukan merger ini juga biasanya menggunakan nama salah satu di antaranya atau menggunakan nama baru berdasarkan kesepakatan bersama.

4. Melakukan penerbitan saham atau obligasi baru

Langkah berikutnya yang bisa dijadikan opsi adalah dengan menerbitkan saham atau obligasi baru dari perusahaan tersebut. Tujuannya adalah untuk mendapatkan modal segar dari investor yang tertarik melakukan pembelian saham atau obligasi yang telah diterbitkan.

Namun opsi ini seringkali sulit dilakukan karena investor juga akan mempertimbangkan kondisi keuangan perusahaannya. Bagaimana pun mereka mendambakan keuntungan, sehingga apabila kondisi keuangan perusahaan kurang meyakinkan investor tentu juga akan takut untuk melakukan pembelian saham maupun obligasi yang diterbitkan.

5. Melakukan reorganisasi perusahaan

Melakukan reorganisasi dalam struktur perusahaan juga dapat dijadikan solusi jitu mengatasi financial distress. Sebab, seperti yang kita tahu, operasional suatu bisnis sangat bergantung pada seluruh sumber daya manusia yang ada di dalamnya. Apabila SDM yang ada dalam perusahaan kurang berkompeten, tentu hasil yang akan didapat juga kurang maksimal.

Maka dari itu, sebelum terlampau parah perusahaan dapat melakukan pergantian karyawan dengan merekrut mereka yang jauh lebih profesional. Lewat perekrutan ini nanti diharapkan kondisi perusahaan dapat membaik seiring berjalannya waktu.

Itulah tadi artikel pembahasan mengenai financial distress serta berbagai macam solusi yang bisa dilakukan oleh pimpinan perusahaan. Untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, perusahaan harus mampu mengontrol arus kas dengan baik termasuk melakukan analisa terhadap minat pasar dan produk yang kurang diminati.

Selain itu, pengambilan keputusan juga harus dipertimbangkan dengan hati-hati dan tidak boleh secara impulsif. Pertimbangkan berbagai macam kemungkinan-kemungkinan yang bisa terjadi di masa mendatang serta menyiapkan solusinya.